Gelak, gerak dan gebrak.... tumpah ruah bagai sampah serapah

Rabu, 29 September 2010

Si Doel dan Si Netron

Untuk kesekian kalinya saya melihat sinetron Si Doel Anak Sekolahan di stasiun tv, dan untuk kesekian kalinya saya merasa ada banyak pesan yang didapat dari sinetron tersebut. Disitu ada Mandra, Atun, Nyak, Babe, Doel serta artis pendukung lain yang bermain sangat natural. Mungkin kenaturalan mereka didukung naskah yang baik. Karena dari yang pertama kali saya melihat sampi dengan kemarin saya menonton untuk yang kesekian kalinya, saya tidak merasa bosan melihatnya. Mereka seperti tidak sedang berakting, mereka seperti sedang menjalani kehidupan keseharian mereka. Tapi entah apa yang ada di benak mereka ketika sedang berakting. Konflik yang terjadipun seperti konflik2 keseharian yang hampir semua orang di Indonesia mengalaminya, jadi membumi begitulah.

“Heh Dul, Sebesar apapun kesalahan orang, kalo orang itu udah merasa salah dan meminta maaf, kita kudu maapin” demikian teriak Babe kepada si Doel di teras depan rumahnya. Ada banyak pesan yang tersirat maupun tersurat dalam cerita itu. Bukan hanya dari Babe dari orang2 yang lain juga banyak meninggalkan pesan, bagaimana Nyak mendukung penuh apa yang dipilh oleh si Doel. Relasi yang mereka bangun antar sesame anggota keluarga maupun dengan para tetangga juga seperti bagaimana kita hidup bertetangga di lingkungan kita. Jadi kita seperti tidak melihat tayangan sinetron di tv, tapi kayak kita mengalami sendiri.

Berbeda dengan sinetron sekarang yang marak di hampir semua station tv kita pada prime time. Mulai dari yang bergenre religi sampai teenagers semua hamper mirip. Mereka punya kesamaan antar satu dengan yang lain, yaitu aktris cantik dan aktor ganteng. Tidak ada sinetron yang tidak menyertakan artis yang cantik dan ganteng. Eh.. ada lagi lagi kesamaannya konflik yang dibangun itu seperti mengada-ada, karena hampir tidak ada yang mirip dengan kehidupan kita. Kita seperti disuguhi opera sabun dari planet sebelah yang kita kurang tahu kehidupan disana itu kayak apa. Bagaiman cara mengelabuhi ibu mertua, bagimana cara menyingkirkan saingan untuk mendapatkan jodoh, bagaimana usaha seorang ibu menyingkirkan menantu yang tidak ia sukai. Ini seperti mengajarkan kita bagaimana cara melakukan perbuatan tercela. Hhmmmh….. memang sih ibu2 rumah tangga itu pada terhibur, tapi apakah mereka juga tetap akan kita suguhi dengan tayangan seperti itu? apakah kita tidak punya kepedulian untuk membuat pola berpikir masyarakat kita semakin maju?. Memang temen2 pembuat tayangan itu tidak bisa disalahkan karena saya yakin mereka juga tidak pernah melihat hasil dari kerjaan mereka, karena bagaimana mungkin mereka nonton tv kalo kerjaan aja numpuk dan kejar tayang gitu.

 Yah begitulah industry sinetron yang kayaknya tidak mungkin kita hindari. Level ini kayaknya harus dilewati oleh industry pertelevisian kita. Semoga perubahan itu akan segera datang. Trio Baron, Juki dan Chelsea di Para pencari Tuhan mungkin salah satu penerus Si Doel untuk membuat langit sinetron kita rada cerah. Semoga….

2 komentar:

  1. Setujuh.. brohh....

    Kayaknya, hal pertama dan paling simpel biar sinetron jadi oke adalah membuang Pilar-pilar rumah yg guede-gede itu. Wakakakak..... piss..

    BalasHapus
  2. hahaha... ato pilar yg gede-gede itu diganti sm bambu2, biar kliatan sederhana hahahaha...

    BalasHapus