Untuk kesekian kalinya saya melihat sinetron Si Doel Anak Sekolahan di stasiun tv, dan untuk kesekian kalinya saya merasa ada banyak pesan yang didapat dari sinetron tersebut. Disitu ada Mandra, Atun, Nyak, Babe, Doel serta artis pendukung lain yang bermain sangat natural. Mungkin kenaturalan mereka didukung naskah yang baik. Karena dari yang pertama kali saya melihat sampi dengan kemarin saya menonton untuk yang kesekian kalinya, saya tidak merasa bosan melihatnya. Mereka seperti tidak sedang berakting, mereka seperti sedang menjalani kehidupan keseharian mereka. Tapi entah apa yang ada di benak mereka ketika sedang berakting. Konflik yang terjadipun seperti konflik2 keseharian yang hampir semua orang di Indonesia mengalaminya, jadi membumi begitulah.
“Heh Dul, Sebesar apapun kesalahan orang, kalo orang itu udah merasa salah dan meminta maaf, kita kudu maapin” demikian teriak Babe kepada si Doel di teras depan rumahnya. Ada banyak pesan yang tersirat maupun tersurat dalam cerita itu. Bukan hanya dari Babe dari orang2 yang lain juga banyak meninggalkan pesan, bagaimana Nyak mendukung penuh apa yang dipilh oleh si Doel. Relasi yang mereka bangun antar sesame anggota keluarga maupun dengan para tetangga juga seperti bagaimana kita hidup bertetangga di lingkungan kita. Jadi kita seperti tidak melihat tayangan sinetron di tv, tapi kayak kita mengalami sendiri.
Berbeda dengan sinetron sekarang yang marak di hampir semua station tv kita pada prime time. Mulai dari yang bergenre religi sampai teenagers semua hamper mirip. Mereka punya kesamaan antar satu dengan yang lain, yaitu aktris cantik dan aktor ganteng. Tidak ada sinetron yang tidak menyertakan artis yang cantik dan ganteng. Eh.. ada lagi lagi kesamaannya konflik yang dibangun itu seperti mengada-ada, karena hampir tidak ada yang mirip dengan kehidupan kita. Kita seperti disuguhi opera sabun dari planet sebelah yang kita kurang tahu kehidupan disana itu kayak apa. Bagaiman cara mengelabuhi ibu mertua, bagimana cara menyingkirkan saingan untuk mendapatkan jodoh, bagaimana usaha seorang ibu menyingkirkan menantu yang tidak ia sukai. Ini seperti mengajarkan kita bagaimana cara melakukan perbuatan tercela. Hhmmmh….. memang sih ibu2 rumah tangga itu pada terhibur, tapi apakah mereka juga tetap akan kita suguhi dengan tayangan seperti itu? apakah kita tidak punya kepedulian untuk membuat pola berpikir masyarakat kita semakin maju?. Memang temen2 pembuat tayangan itu tidak bisa disalahkan karena saya yakin mereka juga tidak pernah melihat hasil dari kerjaan mereka, karena bagaimana mungkin mereka nonton tv kalo kerjaan aja numpuk dan kejar tayang gitu.
Yah begitulah industry sinetron yang kayaknya tidak mungkin kita hindari. Level ini kayaknya harus dilewati oleh industry pertelevisian kita. Semoga perubahan itu akan segera datang. Trio Baron, Juki dan Chelsea di Para pencari Tuhan mungkin salah satu penerus Si Doel untuk membuat langit sinetron kita rada cerah. Semoga….
Gelak, gerak dan gebrak.... tumpah ruah bagai sampah serapah
Rabu, 29 September 2010
Minggu, 19 September 2010
Setengah Jalan Perjuangan
Suatu hari di sebuah siang yang panas saya terjebak dalam kebingungan, karena saya harus menyelesaikan pekerjaan di rumah teman saya, tapi siang itu sudah menjelang sholat jumat. Setelah berpikir sejenak kemudian saya memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan dengan harapan tetap bisa sholat jumat di masjid dekat rumah teman saya. Setelah saya naik bus, ternyata bus yang saya tumpangi penuh sesak. Mungkin orang2 itu mempunyai pikiran sama dengan saya, tetap naik bus meski penuh, supaya tidak ketinggalan sholat jumat di rumah. Sangking penuhnya orang2 saling berhimpitan hingga pembicaraan orang2 disebelahku terdengar dengan jelas di telingaku.
Semakin siang masjid2 yang dilewati oleh jalur bus itu semakin banyak didatangi oleh orang2. Pada waktu bus yang saya tumpangi hendak melewati sebuah masjid, saya melihat jamaah masjid itu sudah banyak banget sehingga membludak sampi ke jalan. Akhirnya jalan ditutup setengah agar jamaah bisa sholat dengan tenang. Pada waktu bus yang saya tumpangi melewati masjid tersebut, ada orang disebelah saya sedang bercakap2 dengan temanya di sebelahnya. Orang itu mengatakan “Hhmmh… lihat, kalo sholat aja sampai membludak ke jalan2, tapi koq ya korupsi tetap merajalela” . Mendengar kalimat itu serasa tertusuk ulu hati saya. Kesannya semua koruptor di negeri ini adalah orang islam. Sebenarnya sakit mendengar kalimat itu, tapi tak bisa dipungkiri bahwa kalimat itu memang benar adanya. Orang islam di negeri ini memang rajin beribadah, tapi juga tidak mau ketinggalan berbuat dzalim. Kasihan orang2 islam “itu”, semoga saya dijauhkan dari golongan orang tersebut. Saya kemudian menerawang jauh, dan memunculkan pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab, seperti bagaimana sih nurani orang2 itu? Bagaiman perasaan orang2 yang rajin ke masjid tapi tetap melakukan korupsi, yang jelas2 itu mendzalimi orang lain? Doa seperti apa yang dia panjatkan sehingga dia tetap kekeuh melakukan itu?
Saya tidak sedang berusaha membuat sadar para pelaku itu, tapi saya sedang mempertanyakan bagaimana dia bersikap terhadap hati kecilnya? Saya yakin 110% bahwa hati kecilnya tidak pernah setuju dengan apa yang dilakukan, tapi dia tetep aja gak goyah dengan apa yang dia lakukan. Nggak usah ngomongin agama deh, saya yakin kalau semua agma yang ada pasti mengajarkan umatnya untuk berlaku baik kepada sesama. Ketika ada anak menyakiti adik atau temannya, pasti kita hati kita janggal menerimanya, mungkin kita akan menegur. Begitu juga ketika ada orang melakukan korupsi, itu artinya mengambil hak orang lain, mungkin perasaan orang2 akan sama seperti ketika ada anak yang menyakiti orang lain.
Semakin siang masjid2 yang dilewati oleh jalur bus itu semakin banyak didatangi oleh orang2. Pada waktu bus yang saya tumpangi hendak melewati sebuah masjid, saya melihat jamaah masjid itu sudah banyak banget sehingga membludak sampi ke jalan. Akhirnya jalan ditutup setengah agar jamaah bisa sholat dengan tenang. Pada waktu bus yang saya tumpangi melewati masjid tersebut, ada orang disebelah saya sedang bercakap2 dengan temanya di sebelahnya. Orang itu mengatakan “Hhmmh… lihat, kalo sholat aja sampai membludak ke jalan2, tapi koq ya korupsi tetap merajalela” . Mendengar kalimat itu serasa tertusuk ulu hati saya. Kesannya semua koruptor di negeri ini adalah orang islam. Sebenarnya sakit mendengar kalimat itu, tapi tak bisa dipungkiri bahwa kalimat itu memang benar adanya. Orang islam di negeri ini memang rajin beribadah, tapi juga tidak mau ketinggalan berbuat dzalim. Kasihan orang2 islam “itu”, semoga saya dijauhkan dari golongan orang tersebut. Saya kemudian menerawang jauh, dan memunculkan pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab, seperti bagaimana sih nurani orang2 itu? Bagaiman perasaan orang2 yang rajin ke masjid tapi tetap melakukan korupsi, yang jelas2 itu mendzalimi orang lain? Doa seperti apa yang dia panjatkan sehingga dia tetap kekeuh melakukan itu?
Saya tidak sedang berusaha membuat sadar para pelaku itu, tapi saya sedang mempertanyakan bagaimana dia bersikap terhadap hati kecilnya? Saya yakin 110% bahwa hati kecilnya tidak pernah setuju dengan apa yang dilakukan, tapi dia tetep aja gak goyah dengan apa yang dia lakukan. Nggak usah ngomongin agama deh, saya yakin kalau semua agma yang ada pasti mengajarkan umatnya untuk berlaku baik kepada sesama. Ketika ada anak menyakiti adik atau temannya, pasti kita hati kita janggal menerimanya, mungkin kita akan menegur. Begitu juga ketika ada orang melakukan korupsi, itu artinya mengambil hak orang lain, mungkin perasaan orang2 akan sama seperti ketika ada anak yang menyakiti orang lain.
Sabtu, 04 September 2010
Menjual Hati Nurani
Orang-orang yg duduk di kursi panas itu semakin senang menyakiti perasaan rakyatnya. Setelah perlakuan pemerintah yang membelanjakan uang rakyat untuk membeli mobil bagus nan mahal Toyota Crown Royal Saloon seharga 1,3 Milyra rupiah untuk para pejabat Negara, kini giliran orang2 yang duduk di legislatif tak mau ketinggalan juga. Mereka merencanakan pembangunan gedung baru untuk kantor dan tempat rekreasi mereka senilai 1,2 Triliun rupiah. Bagaimana anda pendapat anda?
Saya kira dengan melihat kondisi Negara kita saat ini, tidak ada satupun anggota masyarakat yang setuju dengan rencana itu. Kecuali dia itu anak atau saudara pejabat Negara. Tindakan ini semakin menegasakan bahwa orang-orang yang duduk di pemerintahan tidak pernah ada sedikitpun niat untuk ikut menyejahterakan rakyat. Mereka hanya mementingkan kepentingan mereka dan kelompok mereka sendiri. Mereka tidak mau ambil pusing bagaimana keadaan rakyatnya. Yang mereka tahu bagaimana caranya membuat pundi-pundi kekayaannya meningkat dan meningkat. Begitu juga para wakil rakyat yang terhormat, yang seharusnya mewakili hati nurani rakyat. Merekapun punya pola pikir yang tidak jauh berbeda. Yang diketahui orang2 tentang wakil rakyat adalah hal2 yang negative tentang mereka, wakil rakyat yang suka tidur, suka membolos waktu siding, korupsi, melakukan pelecehan seksual, dll.
Nah apabila mereka berencana membuat gedung baru dengan nilai yang begitu dhasyat itu mungkin hanya untuk membuat tidur mereka semakin pulas di tempat kerja mereka? Apa itu hanya akan membuat pelecehan seksual semakin merejalela? Apa korupsi akan semakin membabi buta? Jawaban itu mungkin hanya mereka yang tau. Tapi orang2 itu apakah sudah bener2 tidak mempunyai hati nurani? Mungkinkah untuk menjadi anggota dewan harus menjual hati nurani mereka? Lihatlah orang2 di pelosok papua yang tidak bisa bersekolah karena sekolah mereka sangat jauh, lihatlah gedung2 sekolah yang berada dipinggiran, tidak usah di luar jawa, di jawa saja banyak gedung2 sekolah yang tidak layak untuk digunakan. Haruskah kita mewariskan adat istiadat baru kepada anak dan cucu kita untuk menjual hati nurani hanya demi kekayaan semata? Selamatkan Hati Nurani Kita
Langganan:
Postingan (Atom)
