Gelak, gerak dan gebrak.... tumpah ruah bagai sampah serapah

Minggu, 19 September 2010

Setengah Jalan Perjuangan

Suatu hari di sebuah siang yang panas saya terjebak dalam kebingungan, karena saya harus menyelesaikan pekerjaan di rumah teman saya, tapi siang itu sudah menjelang sholat jumat. Setelah berpikir sejenak kemudian saya memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan dengan harapan tetap bisa sholat jumat di masjid dekat rumah teman saya. Setelah saya  naik bus, ternyata bus yang saya tumpangi penuh sesak. Mungkin orang2 itu mempunyai pikiran sama dengan saya, tetap naik bus meski penuh, supaya tidak ketinggalan sholat jumat di rumah. Sangking penuhnya orang2 saling berhimpitan hingga pembicaraan orang2 disebelahku terdengar dengan jelas di telingaku.
Semakin siang masjid2 yang dilewati oleh jalur bus itu semakin banyak didatangi oleh orang2. Pada waktu bus yang saya tumpangi hendak melewati sebuah masjid, saya melihat jamaah masjid itu sudah banyak banget sehingga membludak sampi ke jalan. Akhirnya jalan ditutup setengah agar jamaah bisa sholat dengan tenang. Pada waktu bus yang saya tumpangi melewati masjid tersebut, ada orang disebelah saya sedang bercakap2 dengan temanya di sebelahnya. Orang itu mengatakan “Hhmmh… lihat, kalo sholat aja sampai membludak ke jalan2, tapi koq ya korupsi tetap merajalela” . Mendengar kalimat itu serasa tertusuk ulu hati saya. Kesannya semua koruptor di negeri ini adalah orang islam. Sebenarnya sakit mendengar kalimat itu, tapi tak bisa dipungkiri bahwa kalimat itu memang benar adanya. Orang islam di negeri ini memang rajin beribadah, tapi juga tidak mau ketinggalan berbuat dzalim. Kasihan orang2 islam “itu”, semoga saya dijauhkan dari golongan orang tersebut. Saya kemudian menerawang jauh, dan memunculkan pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab, seperti bagaimana sih nurani orang2 itu? Bagaiman perasaan orang2 yang rajin ke masjid tapi tetap melakukan korupsi, yang jelas2 itu mendzalimi orang lain? Doa seperti apa yang dia panjatkan sehingga dia tetap kekeuh melakukan itu?
Saya tidak sedang berusaha membuat sadar para pelaku itu, tapi saya sedang mempertanyakan bagaimana dia bersikap terhadap hati kecilnya? Saya yakin 110% bahwa hati kecilnya tidak pernah setuju dengan apa yang dilakukan, tapi dia tetep aja gak goyah dengan apa yang dia lakukan. Nggak usah ngomongin agama deh, saya yakin kalau semua agma yang ada pasti mengajarkan umatnya untuk berlaku baik kepada sesama.  Ketika ada anak menyakiti adik atau temannya, pasti kita hati kita janggal menerimanya, mungkin kita akan menegur. Begitu juga ketika ada orang melakukan korupsi, itu artinya mengambil hak orang lain, mungkin perasaan orang2 akan sama seperti ketika ada anak yang menyakiti orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar